Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Jul 30, 2014

#RIP, Abdul Rahman Selamet 30 Juli 2014

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah, ampuni dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah dia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, lindungilah dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” (HR. Muslim)

May 27, 2014

Anakku di Kolam Renang

Ketika anak anakku sudah mulai besar.
Mereka mengartikan kehadiran orang tua dalam setiap detik hidupnya
Begitu pentingnya, Begitu berartinya

Mengapa begitu,
Banyak hal baru, pengalaman baru bagi mereka, setiap hari
Dari pengalaman cara bicara
Pengalaman cara bersikap
Cara mereka membagi waktu
Menguatkan mental menyelesaikan masalah dan sebagainya

Begitu berartinya,
Karena ayah bunda dapat langsung mengingatkannya
Bila ada yang kurang
Agar pengalaman yang benar dan baiklah
Terekam dalam sanubarinya hingga kelak

Semua dimulai dari masa kecil mereka
Menanam akan membuahkan hasil yang di harapkan
Bila mereka disemai dalam lingkungan yang benar dan baik
Insyaallah berbuah anak shalih dan salihah

Orang tua lah yang paling berperan dalam membina mereka
Bukan lingkungan, tetangga atau teman temannya
Mereka hanya faktor penunjang
Faktor dalam mengartikan makhluk sosial sebenarnya

Filterlah,
Pengaruh buruk dari lingkungan, tetangga dan teman temannya
Arahkan ia untuk memilih yang benar dan baik
Asahlah insting mereka untuk tahu mana yang benar dan baik
Tentu di barengi contoh yang benar dan baik sehari hari dari kedua orang tuanya


Nerada swimming pool
27Mei2014
@ahmu




Apr 29, 2014

Merantaulah, Nasehat imam Syafii

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman 
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang 
Pergilah 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman 
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. 

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan 
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia 'kan keruh menggenang 
Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang 
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran 
Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam 
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang 
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman 
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang 

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang 
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan 
Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan 
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan

Syair indah Imam Syafii... utk motivasi anak2 kita agar tak gentar merantau mencari keutamaan ilmu dan manfaatnya..

Mar 2, 2014

AQIDAH & Keutamaannya

Aqidah berasal dari kata al-'aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat.
Aqidah merupakan amalan hati, yaitu kepercayaan/keyakinan hati & pembenarannya kepada sesuatu.
Adapun secara istilah syar'i Aqidah artinya yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya & kepada Hari Akhir serta beriman kepada takdir yang baik & yang buruk.

Dalam agama Islam syari'at terbagi menjadi 2

1]. I'tiqadiyah, yaitu syari'at yang berhubungan dengan keyakinan / keimanan dan amalan hati.
Seperti beriman kepada Allah, Artinya meyakini kewajiban beribadah kepada Allah, meyakini bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan meyakini tuhan-tuhan selainNya adalah batil. Inilah yang disebut Tauhid Uluhiyah.
Beriman kepada Rububiyah Allah, Artinya meyakini bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya yang Mengatur alam semesta ini, menghidupkan & mematikan, memberi Rizki kepada seluruh makhluk.
Dan beriman kepada rukun-rukun iman yang lain,  Inilah yang disebut pokok agama.

2]. Amaliyah, yaitu segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal ibadah, seperti wudhu, shalat, zakat, puasa, haji & seluruh hukum-hukum amaliyah yang lain. Bagian inilah yang disebut cabang-cabang agama.
Amaliyah harus dibangun di atas keyakinan/Aqidah yang benar. Karena benar & rusaknya amal setiap orang tergantung kepada benar & lurusnya aqidahnya.  Maka aqidah yang benar merupakan pondasi bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal seseorang.
Allah Ta'ala berfirman [yang artinya]: "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih & janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada TuhanNya." [QS.Al-Kahfi:110]

Dalam AlQuran Ayat-ayat yang semakna dengan Surat AlKahfi ayat 110 sangatlah banyak, diantaranya, Surat Az-Zumar ayat 2-3 dan 65. Yang kesemuanya menunjukkan bahwa semua amalan harus ikhlas, dan tidak akan diterima jika disertai kesyirikan.

Dan karena PERKARA inilah yang menjadikan PRIORITAS UTAMA perhatian Rasulullah adalah pelurusan masalah aqidah.
Demikian juga diutusnya para Rasul, dari Rasul yang pertama yaitu Nabi Nuh 'alaihis salam hingga  Nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam. Semua diperintahkan untuk memulai dakwah kepada ummatnya agar menyembah hanya kepada Allah semata & meninggalkan segala yang dituhankan selain Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman [yang artinya]: Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut [ QS. An-Nahl:36]

Demikian juga Allah jelaskan dalam surat Al-A'raf ayat 59, 65, 73, 85. Semuanya memulai dakwahnya dengan seruan "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya." 

Dari uraian diatas dapat kita ketahui, betapa pentingnya mempelajari Aqidah yang benar, Aqidah Tauhid... Aqidah yang dibawa RasuluLLah Shalallahu 'alaihi wa sallam dan difahami para sahabatnya..

dikutip dari, al-shofwa

Feb 21, 2014

Feb 18, 2014

Jan 28, 2014

Kata-kata Bijak yang Koplak

Sugeng sonten sedulur....

Kalimat ini saya copy paste dari alenia terahir artikel pada link berikut, sumonggo dipun nikmati,

“Orang-orang yang mencari kebenaran itu, seperti air.. Jika dihadang, ia berbelok. Dibendung, ia akan merembes. Bahkan jika dibendung dengan menggunakan beton dalam bendungan raksasa, ia akan menguap.. Ia tidak akan pernah lelah mencari jalannya…”

link nya ini dia,

Kata-kata Bijak yang Koplak! Dasar Koplak! - Underground Tauhid

http://undergroundtauhid.com/kata-kata-bijak-yang-koplak-dasar-koplak/

Jan 24, 2014

Untukmu yang Mengharamkan Kata “Jangan”, Adakah Engkau Telah Melupakan Kitabmu?

“Al-Qur’an itu kuno,  Bu, konservatif, out of dated!. Kita telah lama hidup dalam nuansa humanis, tetapi Al-Qur’an masih menggunakan pemaksaan atas aturan tertentu yang diinginkan Tuhan dengan rupa perintah dan larangan di saat riset membuktikan kalau pemberian motivasi dan pilihan itu lebih baik. Al-Qur’an masih memakai ratusan kata ‘jangan’ di saat para psikolog dan pakar parenting telah lama meninggalkannya. Apakah Tuhan tidak paham kalau penggunaan negasi yang kasar itu dapat memicu agresifitas anak-anak, perasaan divonis, dan tertutupnya jalur dialog?“ Katanya sambil duduk di atas sofa dan kakinya diangkat ke atas meja.

Pernahkan Bapak dan Ibu sekalian membayangkan kalau pernyataan dan sikap itu terjadi pada anak kita, suatu saat nanti?

Itu mungkin saja terjadi jika kita terus menerus mendidiknya dengan pola didikan Barat yang tidak memberi batasan tegas soal aturan dan hukum. Mungkin saja anak kita menjadi demikian hanya gara-gara sejak dini ia tidak pernah dilarang atau mengenal negasi ‘jangan’.

Saat ini, sejak bergesernya teori psikoanalisa (Freud dan kawan-kawan) kemudian disusul behaviorisme (Pavlov dan kawan-kawan), isu humanism dalam mendidik anak terus disuarakan. Mereka membuang kata “Jangan” dalam proses mendidik anak-anak kita dengan alasan itu melukai rasa kemanusiaan, menjatuhkan harga diri anak pada posisi bersalah, dan menutup pintu dialog. Ini tidak menjadi masalah karena norma apapun menghargai nilai humanisme.

Tidak perlu ditutupi bahwa parenting telah menjadi barang dagangan yang laris dijual. Ada begitu banyak lembaga psikologi terapan, dari yang professional sampai yang amatiran dengan trainer yang baru lulus pelatihan kemarin sore. Promosi begitu gencar, rayuan begitu indah dan penampilan mereka begitu memukau. Mereka selalu menyarankan, salah satunya agar kita membuang kata “jangan” ketika berinteraksi dengan anak-anak. Para orang tua muda terkagum-kagum member applausa. Sebagian tampak berjilbab, bahkan jilbab besar. Sampai di sini [mungkin] juga sepertinya tidak ada yang salah.

Tetapi pertanyaan besar layak dilontarkan kepada para pendidik muslim, apalagi mereka yang terlibat dalam dakwah dan perjuangan syariat Islam. Pertanyaan itu adalah “Adakah Engkau telah melupakan Kitabmu yang di dalamnya berisi aturan-aturan tegas? Adakah engkau lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”?

Salah satu contoh terbaik adalah catatan Kitabullah tentang Luqman Al-Hakim, Surah Luqman ayat 12 sampai 19. Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang Dia beri hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah..” dst)

Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya “Wahai anakku, JANGANLAH  engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.

Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “laa” (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada  anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”

Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”. Pun demikian   dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.

Adakah pribadi psikolog atau pakar patenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman?  Tidak ada. Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.

Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang, tetapi karena lebih memilih berdamai. Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya. Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut dosa, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.

Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiyatan bertebaran karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”. Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.

Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan.

Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal. Simpan saja Al-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.

dikutip dari, http://bit.ly/1fbkyNN

Jan 23, 2014

Teman, Kawan, Sahabat, whatever..

Nasehat yg sangat berkesan.

Sesama Hewan Landak tidak mungkin saling merapat satu dengan lainnya.
Duri duri tajam yg mengitari tubuhnya adalah penghalang utama mereka untuk melakukan hal di atas. Bahkan kepada anak kandungnya sendiri....

Ketika musim dingin tiba, membawa hembusan badai salju susul menyusul, serta cuaca dingin yg menggigit tulang, dalam kondisi kritis seperti ini, para landak itu terpaksa saling merapat satu dengan lainnya, demi menghangatkan tubuh2 nya meski mereka harus berjuang menahan perih dan sakitnya duri2 landak lain yg menusuk,  melukai kulit2 mereka.

Jika sekawanan landak itu telah merasakan sedikit kehangatan, segera saja mereka saling menjauh, namun jika  rasa dingin kembali merasuk ke dalam tubuh mereka, mereka akan segera merapat lagi... dan demikianlah seterusnya.
sepanjang malam, landak2 itu disibukan oleh kegiatan saling menjauh dan saling mendekat.

Merapat terlalu lama akan menimpakan atas mereka benyak luka. Sementara jika mereka saling menjauh dalam waktu yg lama justru bisa saja rasa dingin menewaskan mereka.

Demikianlah keadaan kita manusia dalam hubungan interaksi sosial antara sesama kita dalam hidup ini, tentu tak seorang manusiapun terbebas dari duri2 (kesalahan2) yg mengitari dirinya, demikian halnya org lain...

Tentu mereka sama sekali tidak akan dapat merasakan kehangatan jika mereka tidak rela bersabar menanggung perihnya duri2 (kesalahan) org lain pada saat saling merapat.

Oleh karena itulah:

Siapa saja yg hendak mencari sahabat tanpa kesalahan, niscaya ia akan hidup sebatang kara.

Dan barang siapa yg ingin mencari pendamping hidup sempurna tanpa kekurangan, niscaya ia akan hidup membujang.

Dan barang siapa yg berusaha mencari saudara tanpa problema, niscaya ia akan hidup dalam pencarian yg tiada akhirnya.

Barang siapa yg hendak mencari kerabat yg ideal dan sempurna, niscaya ia akan lalui seluruh hidupnya dalam permusuhan.

Maka, bersabarlah menanggung perihnya kesalahan orang lain, agar kita dapat mengembalikan keseimbangan dalam hidup ini.

Camkanlah ....jika engkau ingin hidup bahagia, jangan menafsirkan segala sesuatu, jangan pula terlalu kritis pada segala hal, serta jangan terlalu jeli meneliti segala sesuatu.

Sebab jika seseorang jeli meneliti asal usul berlian, ia akan mendapti ternyata berlian itu bermula dari bongkahan batu hitam.
***

Diterjemahkan dari faedah yg dishare oleh Syekh Abu Muhammad as - Sulmiy -hafizhohullah -

Diterjemahkan oleh akhukum Fadlan Akbar, Lc

Jan 22, 2014

Nabi Musa a.s.

Diantara kisah para nabi yang paling banyak Allah kisahkan dalam AlQuran adalah kisahnya Nabi Musa 'alaihis shalatu was salam. Dr. Utsman al-Khamis berkata [yang artinya]:

Nama beliau [Nabi Musa 'alaihis shalatu was salam] disebut berulang-ulang dalam kitab Allah (Alquran) menunjukkan bahwa Allah menginginkan agar kita selalu merenungkan keadaan beliau, kesulitan yang beliau jumpai, rasa capek beliau, setiap gangguan dan ujian yang beliau hadapi. 

[Fa biHudahum, Dr. Utsman al-Khamis, hlm. 327]

Beliau adalah Musa bin Imran, dan masih keturunan Nabi Ya'qub 'alaihis shalatu was salam. Allah tegaskan dalam Alquran bahwa beliau termasuk orang yang sangat banyak mendapatkan ujian kehidupan. Allah berfirman [yang artinya]

Dan Kami telah memberikan cobaan kepadammu dengan berbagai macam cobaan. [QS. Taha: 40]

Dalam Alquran, Allah menyebutkan beberapa doa yang dipanjatkan Musa 'alaihis shalatu was salam ketika sedang ditimpa cobaan dan kesusahan. Doa-doa itu beliau panjatkan dalam setiap kesempatan yang berbeda. Namun ada SATU DOA YANG SANGAT MENAKJUBKAN, doa yang mengobati sekian banyak kegelisahan yang dialami oleh Musa, doa yang menjadi sebab Allah MENGGANTI MUSIBAH dan cobaan yang menimpa DENGAN KEUTAMAAN.

 رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِير

"Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat membutuhkan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku" [QS. Al-Qashas: 24]

Doa ini diucapkan Musa ketika beliau berada di kondisi serba susah. Diliputi rasa cemas dan ketakutan. Bagi orang awam, keadaan itu mungkin sudah dianggap puncak ujian, seolah tidak ada lagi harapan untuk hidup.

Dalam surat al-Qashash, Allah menceritakan kisah Nabi Musa 'alaihis shalatu was salam dari ayat 3 hingga ayat 43. Dan diantara musibah dan cobaan yang Allah ujikan kepada Nabi Musa 'alaihis shalatu was salam adalah

 Beliau lahir ketika bangsa Bani Israil dijajah dan ditindas habis oleh Fir'aun.

 Beliau lahir ketika Fir'aun membuat aturan yang memerintahkan untuk mebunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.

 Dengan aturan tersebut Firaun membuat lemah setiap sendi kehidupan bani Israil, seolah tidak ada harapan untuk bisa bangkit memperjuangkan kemerdekaannya.
 Setelah dilahirkan ibunya, Allah perintahkan ibunya untuk melabuhkan Musa ke sungai.

 Diselamatkan oleh Asiyah istri Firaun. Musa kecil tumbuh di tengah-tengah calon musuh besarnya.

 Setelah besar, Musa menjadi buronan Fir'aun karena tidak sengaja membunuh pengikut Firaun ketika berusaha membantu lelaki bani Israil yang rebutan air dengan korban. Musa melarikan diri dari kerajaan Firaun.

 Dengan penuh ketakutan, Musa keluar dari mesir menuju negeri Madyan hanya dengan berjalan kaki tanpa membawa bekal.

 Di saat sedang istirahat setelah berjalan kaki dari mesir Musa membantu dua wanita yang mengantri untuk mengambil air untuk ternaknya karena mereka tidak mampu melakukannya.

Di saat itulah, Musa merasa sangat membutuhkan pertolongan dan bantuan. Tapi tiada lagi tempat mengadu, tidak ada keluarga, tidak ada pekerjaan, tidak mungkin kembali ke Mesir dalam waktu dekat. Di saat itulah, Musa merasa sangat butuh pertolongan Tuhannya. Di bawah teduh pepohonan, beliau berdoa,

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِير

Musa memberi minum ternak itu untuk menolong kedua wanita itu, kemudian dia duduk di tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat membutuhkan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashas: 24).

Setelah mengucapkan doa tersebut, pertolongan dari Allah pun datang:

 Salah satu diantara wanita yang ditolong Musa, menawarkan kepada Musa agar mampir ke rumahnya. Menemui ayah sang gadis.

 Allah berikan jaminan keamanan kepada Musa, dengan Allah kumpulkan beliau bersama orang soleh (ayah si gadis).

 Si ayah menikahkan Musa dengan salah satu putrinya.

 Musa mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal yang aman di kota Madyan.

 Setelah tinggal sekitar 10 tahun di negeri Madyan, Ketika dalam perjalanan kembali menuju mesir Musa dipanggil dan diajak bicara langsung oleh Allah di lembah Tuwa.

 Di lembah ini, Allah berbicara langsung dengan Musa dan mengangkat Musa sebagai Nabi.

 Allah jadikan tongkat Musa mukjizatnya. Tongkatnya bisa berubah jadi ular, membelah lautan dan Allah berikan banyak Mukjizat lainnya untuk melawan Firaun.

 Allah mengangkat saudara Musa, Harun, sebagai Nabi, yang akan membantu Musa dalam berdakwah.

 Allah memenangkan Musa dan Firaun ditenggelamkan di laut merah.

Mari kita perhatikan, KEMENANGAN dan KEBERHASILAN bertubi-tubi yang Allah berikan kepada Musa. Yang semua itu dimulai setelah dia BERDOA dengan PENUH RASA HARAP, mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah dan MERASA SANGAT BUTUH pertolonganNya, berdoa dengan doa terbaik, yaitu memohon agar Allah menurunkan banyak kebaikan untuknya.

DAN seperti itulah adab dalam berdoa yang Allah ajarkan kepada kita, BERDOA DENGAN penuh rasa harap untuk dikabulkan, berdoa dengan disertai pengakuan bahwa DIRI KITA LEMAH dan butuh pertolongan Allah, BERDOA DENGAN disertai keyakinan bahwa HANYA Allah sajalah yang bisa menolong dan mengabulkan doa kita.

Sangat BERBEDA SEKALI dengan doa yang tidak diiringi kehadiran hati, HANYA ucapan dalam bahasa arab di lisan, tanpa ada perasaan butuh kepada Allah. TANPA ADA pengakuan bahwa dirinya lemah. tanpa ada keyakinan yang kuat bahwa doanya pasti Allah kabulkan, BAHKAN malah mengadukan Allah kepada makhluqNya yang lemah dan faqir dengan berkata: 

"Aku sudah lama berdoa, aku sudah berdoa berkali-kali tapi Allah tidak mengabulkan doaku"

Kondisi ini yang menjadikan doa kita TIDAK MUSTAJAB. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda [yang artinya]:

"Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Ketahulilah bahwa Allah tidak akan memperkenankan doa dari seorang hamba yang hatinya lalai." [HR. Tirmidzi 3479, Hakim dalam al-Mustadrak 1817]

Semoga bermanfaat. Wallaahu a'lam.

[Sumber: www.konsultasisyariah.com dengan penambahan dan editing dari redaksi WhatsApp Dakwah Al-Sofwa]

Jan 21, 2014

Cerita Tentang Seorang Bernama Cassie



My name is Cassie. I am 23 years old. I graduated as a qualified nurse this year and was given my first position as a home nurse.

My patient was an English gentleman in his early 80’s who suffered from Alzheimer's. In the first meeting I was given the patient’s record and from it I could see that he was a convert to the religion of Islam, therefore he was a Muslim.

I knew from this that I would need to take into account that some modes of treatment may go against his faith, and therefore try to adapt my care to meet his needs. I brought in some ‘halal’ meat to cook for him and ensured that there was no pork or alcohol in the premises as I did some research which showed that these were forbidden in Islam.

My patient was at a very advanced stage of his condition so a lot of my colleagues could not understand why I was going to such lengths for him, but I understood that a person who commits to a faith deserves that commitment to be respected, even if they are not in a position to understand.

Anyway, after a few weeks with my patient I began to notice some patterns of movement.

At first I thought it was some copied motion he's seen someone do, but I saw him repeat the movement at particular times: morning, afternoon, evening.

The movements were to raise his hands, bow and then put his head to the ground. I could not understand it. He was also repeating sentences in another language, I couldn’t figure out what language it was as his speech was slurred but I know the same verses were repeated daily.

Also there was something strange, he didn’t allow me to feed him with my left hand (I am left-handed).

Somehow I knew this linked to his religion but didn't know how.

One of my colleagues told me about Paltalk as a place for debates and discussions and as I did not know any Muslims except for my patient I thought it would be good to speak to some live and ask questions. I went on to the Islam section and entered the room ‘True Message’.

Here I asked questions regarding the repeated movements and was told that these were the actions of prayer. I did not really believe it until someone posted a link of the Islamic prayer on YouTube.

I was shocked.

A man who has lost all memory of his children, of his occupation, and could barely eat and drink, was able to remember not only actions of prayer but verses that were in another language.

This was nothing short of incredible and I knew that this man was devout in his faith, which made me want to learn more in order to care for him the best I could.

I came into the Paltalk room as often as I could and was given a link to read the translation of the Quran and listen to it.

The chapter of the ‘Bee’ gave me chills and I repeated it several times a day.

I saved a recording of the Quran on my iPod and gave it to my patient to listen to. He was smiling and crying, and after reading the translation I could see why.

I applied what I gained from Paltalk to the care for my patient but I gradually found myself coming to the room to find answers for myself.

I never really took the time to look at my life; I never knew my father, my mother died when I was 3, my brother and I were raised by our grandparents who died 4 years ago, so now it's just the two of us.

But despite all this loss, I always thought I was happy, content.

It was only after spending time with my patient that I felt like I was missing something. I was missing that sense of peace and tranquillity my patient, even through his suffering, felt.

I wanted that sense of belonging and a part of something that he felt, even with no one around him.

I was given a list of mosques in my area by a lady on Paltalk and went down to visit one. I watched the prayer and could not hold back my tears.

I felt drawn to the mosque every day and the Imam and his wife would give me books and tapes and welcome any questions I had.

Every question I asked at the mosque and on Paltalk was answered with such clarity and depth that I could do nothing but accept them.

I have never practiced a faith but always believed that there was a God; I just did not know how to worship Him.

One evening I came on Paltalk and one of the speakers on the mic addressed me. He asked me if I have any questions, I said no. He asked if I was happy with the answers I was given, I said yes.

He asked then what was stopping me from accepting Islam, I could not answer.

I went to the mosque to watch the dawn prayer and the Imam asked me the same question, I could not answer.

I then went to tend to my patient, I was feeding him and as I looked in his eyes I just realized, he was brought to me for a reason and the only thing stopping me from accepting was fear.... not fear in the sense of something bad, but fear of accepting something good, and thinking that I was not worthy like this man.

That afternoon I went to the mosque and asked the Imam if I could say my declaration of faith, the Shahaadah.

He helped me through it and I was shown and guided through what I would need to do next.

I cannot explain the feeling I felt when I said it.
It was like someone woke me up from sleep and I saw everything more clearly.

The feeling was overwhelming joy, clarity and most of all.... peace.

The first person I told was not my brother but my patient.

I went to him, and before I even opened my mouth he cried and smiled at me.

I broke down in front of him, I owed him so much.

I came home and logged onto Paltalk and repeated the Shahaadah for the room.

They all helped me so much and even though I had never seen a single one of them, they felt closer to me than my own brother.

I did eventually call my brother to tell him and although he was not happy, he supported me and said he would be there for me. I couldn't ask for more.

After my first week as a Muslim, my patient passed away in his sleep while I was caring for him. Inna lillaahi wa inna ilayhi raji’oon.

He died a peaceful death and I was the only person with him.

He was like the father I never had and he was my doorway to Islam.

From the day of my Shahaadah to this very day and for every day for as long as I live, I will pray that Allah shows mercy on him and grants him the reward for every good deed I perform in the tenfold.

I loved him for the sake of Allah and I pray each night to become an atom’s weight of the Muslim he was.

Islam is a religion with an open door; it is there for those who want to enter it.... Verily, Allah is the Most Merciful, Most Kind.

* note *
Our sister Cassie passed away in October 2010, Inna lillaahi wa inna ilayhi raji’oon, after she gave dawah to her brother, who accepted Islam Alhamdulillaah.

May Allah SWT grant sister Cassie Paradise, Ameen Ya Rabb.

Jan 19, 2014

Nikmat BERHARGA yang Terlupa

Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412).

Kata Maghbuun dalam hadits di atas pada dasarnya terjadi pada jual beli. Dengan ini Nabi shallallaahu alaihi wasallam ingin menjelaskan bahwa orang rugi secara hakiki adalah orang sehat dan memiliki waktu luang lalu tidak bisa memanfaatkan keduanya. Ibaratnya orang memiliki permata yang sangat mahal lalu ditukar dengan kotoran hewan yang tidak berharga.

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, Maksud hadits ini adalah seseorang tidak akan memiliki waktu senggang sampai ia berkecukupan secara ekonomi serta berbadan sehat. Barangsiapa yang memperoleh hal tersebut (berkecukupan dan berbadan sehat) maka hendaklah ia bertekad agar tidak rugi dengan cara mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya. Di antara syukur kepada-Nya adalah dengan mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa meremehkan hal ini, dialah orang yang rugi.

Ibnul-Jauzi rahimahullah berkata,Terkadang ada orang yang memiliki badan sehat namun tidak memiliki waktu luang disebabkan oleh pekerjaannya. Terkadang juga ada orang yang kaya tetapi dia sakit. Jika ada orang yang memiliki kedua hal tersebut, lalu dia malas untuk berbuat taat, maka dialah orang yang rugi.

Untuk lebih jelasnya, dunia ini adalah ladang, di sana ada perniagaan yang keberuntungannya akan nampak di akhirat. Barangsiapa menggunakan waktu luang dan waktu sehatnya untuk berbuat taat kepada Allah, maka dia adalah orang yang berbahagia. Barangsiapa yang menggunakannya untuk berbuat maksiat maka dialah orang yang rugi. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan dan sehat akan diiringi oleh sakit.

Nabi shallallaahu alaihi wasallam membuat permisalan bagi mukallaf (yang telah dibebani beban syariat) dengan seorang pedagang yang punya modal. Kesehatan dan waktu luang adalah modal. Maka semestinya seorang hamba mengisinya dengan keimanan dan memerangi hawa nafsu dan setan, supaya meraih keuntungan di dunia dan akhirat. Janganlah dia mentaati hawa nafsu dan setan agar modal dan keuntungannya tidak hilang sia-sia. Kehilangan modal dan keuntungan adalah kerugian yang besar.

Oleh karena itu para Salafush-Shalih lebih tamak terhadap waktu dibandingkan kita. Di antara kita ada yang TIDAK TAHU bagaimana memanfaatkan waktunya, bagaimana mengisi waktu luangnya? Kita terkadang mendengar dua orang yang berkata kepada temannya: Ayo kita HABISKAN waktu, atau menghilangkan waktu. Sementara pada salaf sangat tamak pada menit, bahkan detik waktu. Kita lihat mereka saling menasihatkan hal itu.
Inilah dia Ibnul-Jauzi rahimahullah yang berkata kepada putranya, Wahai anakku, barangsiapa yang mengucapkan subhaanallaahi wabihamdihi maka ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga. Perhatikanlah, orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya, alangkah BANYAK pohon kurma di Surga YANG disia-siakan.

Semoga bermanfaat. Wallaahu a'lam.

[ Disadur dari abul-jauzaa . blogspot . com ]

Doa Agar Hujan Tidak Memberikan Dampak Buruk

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan :

Seseorang masuk dari pintu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah khutbah jum'at. Dia menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri. Dia mengatakan, "Ya Rasulullah, banyak ternak yg mati, dan jalan terputus. Karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia menahan hujan." 

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, dan berdoa, 

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ 

ALLAHUMMA HAWAALAINA WA LAA ’ALAINA. ALLAHUMMA ’ALAL AAKAMI WAL JIBAALI, WAZH ZHIROOBI, WA BUTHUNIL AWDIYATI, WA MANAABITISY SYAJARI 

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tdk di atas kami. Ya Allah turunkan hujan di bukit2, pegunungan, dataran tinggi, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” Tiba2 hujan langsung berhenti. Kami keluar masjid di bawah terik matahari. (HR. Bukhari – Muslim). 

Dari hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa ketika terjadi banjir, akibat terlalu sering hujan. Doa ini bisa dibaca dalam kondisi banjir spt yg terjadi di ibu kota. Dgn harapan, semoga Allah tdk menimpakan hujan itu sebagai adzab, namun menjadi rahmat. Hujan itu turun di tempat yg subur dan bermanfaat bagi tanaman. 

Ibnu Daqiqil Id ketika menjelaskan hadis ini mengatakan, 

Hadis ini merupakan dalil bolehnya berdoa memohon dihentikan dampak buruk hujan, sebagaimana dianjurkan untuk berdoa agar turun hujan, ketika lama tdk turun. Karena semuanya membahayakan. (Ihkam Al-Ahkam, 1/357) 

Jika doa di atas terlalu panjang, bisa membaca bagian depan: 

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا 

ALLAHUMMA HAWAALAINA WA LAA ’ALAINA

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tdk di atas kami.” 

Allahu a’lam

Ust. Ammi Nur Baits 

www.KonsultasiSyariah.com

Jangan lupa doa ketika turun hujan "Allahumma shayyiban nafi'an"

Jan 14, 2014

Bergaul

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ.

“Orang yg beriman, yg ia  berbaur (berinteraksi) dengan manusia & bersabar atas perbuatan buruk mereka, lebih besar pahalanya daripada seorang yg beriman, yg tak berbaur (berinteraksi) dengan manusia & tidak sabar atas tindakan buruk mereka.”

(HR. At-Tirmizi no. 2507, Ibnu Majah no. 4022, & dinyatakan shahih oleh Al-Albani dlm Shahih Al-Jami’ no. 6651)

Pelajaran dari Hadits diatas:

Seorang Muslim/Muslimah yg beriman seharusnya adalah hidup bermasyarakat & tidak Eksklusif atau mengasingkan diri hanya dengan berbaur pada kelompok atau komunitas tertentu saja.

Seorang yg beriman haruslah menjadi sosok Tauladan dalam Masyarakat, mencontohkan Akhlaq yg baik & bisa mendakwahkan mereka kepada Islam yg sesungguhnya walau itu pastilah sangat berat.

Bersabar dalam mendakwahi mereka & tetaplah bersikap lemah lembut serta memberikan hikmah dalam pergaulan.

Jangan Mahal senyum..!!
Jangan Sombong..!!
Jangan merasa diri lebih Mulia..!!

Apalagi Laa Salam wa Laa Kalam.
Gak Mau ucap Salam & gak mau tegur sapa..
Maka jangan salahkan jika mereka menilai negatif..

Berdakwahlah kepada Masyarakat..
Merekapun berhak mendapatkan Hidayah seperti kita & semoga Alloh memberi Mereka Hidayah dengan dakwah Kita.

 Ditulis oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Jan 10, 2014

Bagaimana Merapatkan Shoff Ketika Sholat Berjamaa’ah?

Alhamdulillah..sholawat dan salam untuk Rosululloh..amma ba'du!

Saudaraku seislam yang saya cintai, berikut tuntunan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam merapatkan shoff ketika sholat berjamaa’ah. Semoga Alloh memberikan kefahaman dan manfaatnya untuk kita semua, aamiin

Dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Rapatkanlah shoff kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik punggungku. Dan adalah seorang kami merapatkan pundaknya dengan pundak temannya dan kakinya dengan kaki temannya. [HSR. Bukhori no. 725]

Nu’man bin Basyr rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri menghadap orang-orang seraya mengatakan : “Luruskanlah shof-shof ( beliau mengulanginya sebanyak tiga kali ). Demi Alloh kaliau meluruskan shof-shof kalian atau Alloh akan menceraiberaikan hati kalian.”  Nu’man berkata :

فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَلْزَقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ

“Maka aku melihat seseorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya,menempelkan lututnya dengan lutut temannya dan menempelkan mata kaki dengan mata kaki temannya.” [HSR. Abu Dawud dalam sunannya no. 662]

Saudaraku, apa yang dilakukan para sahabat ketika meluruskan shof dan  merapatkannya merupakan teladan yang harus kita ikuti. Mereka telah melakukannya di hadapan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menegurnya. Hal itu menunjukkan bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menyetujui apa yang dilakukan para sahabat. Dan inilah cara meluruskan shof dan merapatkannya yang sempurna dan dikehendaki syariat, meluruskan shof dan merapatkannya seperti malaikat berbaris di hadapan Alloh ‘Azza wa Jalla.

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan termasuk amal sholeh

Wa shollallohu wa sallama 'alaa Nabiyyinaa Muhammad

Jan 2, 2014

Dugaan Berujung Maut

Kelompok yg satu mungkin mengharap efek jera, agar tak macam-macam kalian dengan kami, kami tak segan tembak kalian ditempat dengan modal 'dugaan'. Sementara yg satunya, bagai disiram bensin, mati satu tumbuh seribu.

Bila peran negara hanya potong sana potong sini tanpa menyentuh sumber masalah, haqqul yakin, hal ini akan terus berulang, berulang dan berulang.

Bersiaplah warga negara, jika kalian tertembak tak disengaja dan mati, solusi paling mudah adalah buat  judul berita 'terduga duga' melawan dan memiliki bom nuklir..!!!

Sampai disini, dan untuk kemudian, who is the real terror creator?

Dec 30, 2013

Di Balik Topi Tahun Baru Sanbenito, Murtadnya Muslim Andalusia

ADA yang khas dalam setiap pergantian tahun baru Masehi; terompet dan topi kerucut. Di balik semua itu, ada sejarah yang tersimpan berhubungan dengan umat Muslim di masa lalu.

Dalam kajian Kristologi yang disampaikan Irena Handono, dahulu, pada masa Raja Ferdinand dan Ratu Isabela (keduanya penganut Kristiani) berkuasa di Andalusia—ketika kaum Muslimin dibantai—memberi jaminan hidup kepada orang Islam dengan satu syarat, yakni keluar dari Islam.

Maka untuk membedakan mana yang sudah murtad dan mana yang belum adalah ketika seorang muslim menggunakan baju seragam dan topi berbentuk kerucut dengan nama Sanbenito. Jadi, Sanbenito adalah sebuah tanda berupa pakaian khusus untuk membedakan mana yang sudah di-converso (murtad).

Saat itu umat Islam di Andalusia dibantai, kecuali yang memakai Sanbenito. Topi itu digunakan saat keluar rumah, termasuk ketika ke pasar. Dengan menggunakan sanbenito, mereka aman dan tidak dibunuh.

Setelah pembantaian selesai, agenda Ratu Isabela selanjutnya adalah mengejar muslim yang lari dan bersembunyi ke Amerika Selatan. Orang Islam yang tertangkap lalu diseret ke lembaga inkuisi (penyiksaan) yang dilaksanakan oleh orang gereja. Adapun pastur pertama yang ditunjuk Ferdinand dan Isabela untuk melaksanakan inkuisi adalah pastur bernama Torquemada. Ia adalah Jenderal Yahudi yang dikenal sebagai pembantai umat Islam Andalusia.

Bukan hanya orang Islam saja yang diseret ke lembaga inkuisisi, tapi juga orang Yahudi yang menolak masuk Kristen. Di tanah lapang, mereka kemudian ada yang dibakar hidup-hidup, ada pula yang disiksa dengan kayu yang diruncingkan sehingga bokongnya akan tertusuk. Penyiksaan lainnya berupa pematahan tulang kaki.

Kini, enam abad setelah peristiwa, jutaan umat Muslim di dunia mengenakan topi kerucut Sanbenito ketika akan menyambut tahun baru Masehi. Detik pergantian tahun, mereka pun dengan wajah gembira membunyikan terompet, TEEEEET!, dan sama sekali tidak paham soal topi di kepalanya. [sa/islampos/voa-islam]

dikutip dari, http://bit.ly/18TuwDo

Dec 28, 2013

Khutbah Jum’at – Antara Penanggalan Hijriyah dan Masehi

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, 

Hari ini, 27 Desember 2013, kita berada pada dua momen yang dianggap khusus bagi peradaban Barat, yakni momen 25 Desember dan momen 01 Januari. Sebagian dari mereka menetapkan 25 Desember sebagai hari Natal Nabi ‘Isa al-Masih, sehingga di negeri kita, negeri dengan mayoritas Muslim ini, umatnya dikondisikan sedemikian rupa agar keyakinan 25 Desember tersebut menjadi keyakinan bersama, dirayakan bersama, dan seakan umat Islam berasa berhutang jika belum mengucapkan Merry Christmas kepada sahabat yang merayakannya, sementara di negeri Barat, tempat asal keyakinan ini lahir, justeru ucapan tersebut telah mulai tergantikan dengan kalimat Season’s Greetings atau Happy Holidays, dikarenakan menurut mereka, as a response to what they say is the reality of a growing non-Christian population. Yang lebih menyedihkan, bahwa di negeri ini, 25 Desember dikesankan menjadi hari yang tidak aman bagi pemeluk Kristiani, sehingga muncullah pengerahan massa yang berlebihan, di-blow-up berbagai media massa. Sementara di sisi lain, kita menemukan adanya yang saya istilahkan dengan ‘pemaksaan budaya’ untuk mengenakan atribut sinterklas kepada para pekerja Muslim di dunia bisnis, hiburan bahkan mulai masuk ke dalam institusi resmi kepemerintahan.

Pada titik inilah kita umat Islam harus mampu mengamalkan konsep tasamuh (toleransi ala Islam) secara benar dan berbasiskan ilmu, sebagaimana teladan Nabi Saw. yang mampu menciptakan kerukunan dalam kehidupan keberagaman dalam kebergamaan. Toleransi bukan berarti kita harus merayakan hari kebesaran umat lain, toleransi bukan berarti kita harus mengikuti budaya umat lain, dan toleransi bukan berarti kita harus meyakini keyakinan umat lain.

Dalam pengertian Barat, sebagai contoh, kita dapat mengutip makna kata ‘tolerance’  dalam The New International Webster Comprehensive Dictionary of The English Language (1996:1320), yang berarti to endure without protest, menahan perasaan tanpa protes. Dalam pengertian ini, seseorang tidak berhak protes atas argumen orang lain, meskipun ia gagasan yang salah dalam keyakinan.

Islam memandang bahwa bertoleransi berarti menjamin kenyamanan umat lain dalam beribadah, menghormati keimanan umat lain dengan keyakinan mereka akan kebenaran mereka, dan senantiasa berbuat baik kepada mereka. Demikianlah makna yang benar dari Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam yang mampu mengayomi dan menjadi kasih bagi umat lainnya. Bahkan kebaikan yang harus terlahir dari pribadi Muslim kepada non-Muslim, tidak dibatasi hanya pada satu hari tertentu, akan tetapi harus menyatu dalam setiap detik nafasnya. Sedemikian toleran-nya Islam, sehingga umatnya diperintahkan untuk menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan, khususnya dari mereka yang miskin, sakit, dan mendapatkan musibah. Mendorong umatnya untuk tetap mempergauli dengan baik, orang tua yang berbeda agama dengannya, dan senang memberikan hadiah kepada non-Muslim.

Maka jagalah diri kita dari pemahaman Islam rahmatan lil ‘alamin seperti yang diasong gerakan Jaringan Islam Liberal, yang tidak liberal karena telah memaksakan pendapat bahwa kebenaran milik semua agama, karena telah tertanam nan mendalam dalam jiwa umat Islam bahwa kebenaran hanya milik Islam, sebagaimana umat lain meyakini nan mendalam bahwa kebenaran hanya milik mereka, dan tidak ada persoalan dalam hal ini, selama masing-masing mengetahui batas-batas dimana mereka tidak bisa saling bercampur, dan area dimana mereka bisa saling bekerjasama, sehingga terlahir makna toleransi sesungguhnya, bukan makna toleransi yang dipaksakan, dan bukan lahir dari tirani minoritas kepada mayoritas.

Firman Allah Swt. Q.S. Al-Kafirun/109 : 6,

Firman Allah Swt. Q.S. Yunus/10 : 41,

Firman Allah Swt. Q.S. Al-Qashash/28 : 55,

Kita umat Islam meyakini, bahwa Nabi ‘Isa a.s. adalah Nabi yang mulia, yang terlahir di saat musim panas dimana pohon-pohon kurma berbuat dengan lebatnya (Q.S. Maryam/19:23-25). Bahkan keyakinan ini telah ada di dalam kitab Injil (Lukas 2.1-8 dan Matius 2.1, 10, 11), bahwa Nabi ‘Isa a.s. lahir di malam hari di saat gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput, dan malam yang penuh bintang-bintang di langit. Sementara 25 Desember adalah musim dingin di Palestina, dan salju merupakan hal yang tidak mustahil. Atas hal inilah kita kemudian memahami mengapa Sarjana Kristen Barat, Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible, menjelaskan bahwa ‘Isa a.s. lahir dalam bulan Elul (bulan Yahudi), yang jatuh bersamaan dengan bulan Agustus-September. Atas hal ini pulalah kita memahami mengapa Uskup Barns dalam Rise of Christianity menolak kepercayaan bahwa 25 Desember adalah hari lahir Isa a.s. karena ketiadaan bukti. Bahkan beliau mendorong umatnya untuk mempercayai cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Betlehem, maka hari lahir ‘Isa a.s. tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil.

Semakin banyak kita mempelajari sejarah, semakin pula kita memahami, mengapa sebagian saudara kita dari kaum kristiani tidak setuju dengan adanya simbol pohon cemara menjadi Pohon Natal, dikarenakan kebiasaan ini adalah kebiasaan baru (bid’ah) dimulai di Jerman abad ke-16, dan dikarenakan pada zaman dahulu bangsa Romawi menggunakan pohon cemara untuk perayaan Saturnalia, mereka menghiasinya dengan hiasan-hiasan kecil dan topeng-topeng kecil, karena pada 25 Desember ini adalah hari kelahiran dewa matahari, Mithras, yang asal mulanya dari Dewa Matahari Iran yang kemudian dipuja di Roma. Demikian pula hari Minggu adalah hari untuk menyembah dewa matahari sesuai dari arti kata Zondag, Sunday atau Sonntag, Hari Matahari.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

01 Januari 2014 akan hadir menemui kita. Umat Islam kembali menemui fakta bahwa generasinya juga mulai mengikuti budaya baru, dimana bisnis terompet menjadi begitu menarik, bisnis petasan menjadi begitu menjanjikan, dan pesta muda-mudi siap digelar dengan beragam bumbu yang rentan berbau kemaksiatan seperti minuman keras, sabu, narkotika, dan kehidupan bebas.

Perlu khatib sampaikan bahwa tidak ada yang value free di dunia ini, karena semua hal value-laden, sarat dengan nilai, terkait dengan worldview yang melatarbelakanginya, terkait dengan peradaban apa yang saat itu sedang memimpin. Demikian pula dengan kalender Masehi, kalender yang mulai digunakan oleh Eropa Barat abad ke-8, ketika mulai mengembangkan peradabannya, kalender yang menjadikan awal tahun Masehi merujuk kepada tahun kelahiran Nabi ‘Isa a.s. Inilah rahasia mengapa disebut Masehi, merujuk kepada kata al-masih. Dalam bahasa Inggeris, penanggalan ini disebut dengan singkatan AD (Anno Domini) yang berarti Tahun Tuhan kita atau CE (Common Era) untuk Era Masehi, dan BC (Before Christ) yang berarti sebelum kelahiran Yesus atau BCE (Before Common Era), sebelum era umum.

Semula biarawan Katolik, Dionisius Exoguus pada tahun 527 M ditugaskan pimpinan Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Nabi Isa as (Yesus). Dan mula-mula dipergunakan untuk menghitung tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma. Awalnya penghitungan hari Orang Romawi terbagi dalam 10 bulan saja (kecuali Januari dan Februari). Persis dengan pemberian nama hari, pemberian nama bulan pada tarikh yang kemudian menjadi penghitungan hari Masehi ini ada kaitannya dengan dewa bangsa Romawi. Bulan Martius mengambil nama Dewa Mars, bulan Maius mengambil nama Dewa Maia dan bulan Junius mengambil nama Dewa Juno.

Penanggalan yang terdiri atas 10 bulan kemudian berkembang menjadi 12 bulan. Berarti ada tambahan 2 bulan, yaitu Januarius dan Februarius. Januarius adalah nama dewa Janus. Dewa ini berwajah dua, menghadap ke muka dan ke belakang, hingga dapat memandang masa lalu dan masa depan. Karenanya Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama.

Ketiga sebagai pembaharu terakhir Paus Regious XIII menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru lagi. Berarti pada perhitungan rahib Katolik, Dionisius Exoguus menjadi tidak terpakai. Tahun baru bukan lagi 25 Maret seiring dengan pengertian Nabi Isa. as (Yesus) lahir pada tanggal 25, dan permulaan musim semi pada bulan Maret. Maka kita akhirnya memahami bahwa penanggalan tahun Masehi yang dipakai saat ini berdasarkan Astrologi Mesopotamia yang dikembangkan oleh astronum-astronum para penyembah dewa-dewa. Maka nama-nama bulan pun memakai nama dewa dan tokoh-tokoh pencetus penanggalan kalender Masehi, yang kemudian ditetapkan oleh Paus Katolik dan menjadi tradisi umat Kristen se-Dunia.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Jika kalender Masehi adalah kalender solar (mengacu pada peredaran matahari), maka kalender Hijriyah adalah kalender lunar (mengacu pada peredaran bulan). Maka menurut penanggalan Hijriyah, hari ini 24 Shafar 1435. Mengingat Shafar kita mengingat bahwa Muharram baru saja usai, bulan yang ditetapkan oleh Khalifah ‘Umar r.a. dalam musyawarah bersama para sahabat melihat kemuliaan yang ada di dalam bulan itu, dan awal tahun diputuskan merujuk kepada momentum hijrahnya Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah. Mengingat Shafar kita pun mengingat akan hadirnya bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw, yakni bulan Rabi’ul Awwal, yang juga menjadi bulan dilaksanakannya Hijrah tepat pada usia Nabi Muhammad Saw. ke-53 tahun dan kemudian kita ketahui bahwa ibadah Shalat Jum’at yang pertama kali beliau laksanakan adalah dalam perjalanan hijrah beliau, yakni di Wadi Ranuna, 1km dari Masjid Quba, atau 4km dari Madinah, dan di sana berdiri sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jum’at.

Allah Swt berfirman di dalam Q.S. Al-Baqarah/2 : 189,

[2.189] Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji;

Demikian pula firman-Nya di dalam Q.S. Yunus/10:5,

[10.5] Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Demikian pula firman-Nya di dalam Q.S. Yasin/36:39,

[36.39] Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.

Demikian pula firman-Nya di dalam Q.S. Al-An’am/6:96,

[6.96] Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Dari uraian di atas, khatib mengajak diri dan para hadirin, untuk menjaga identitas Islam di dalam diri kita, untuk kembali menuntut ilmu dari sumber yang shahih, untuk kembali mendapatkan jejak-jejak Islam yang mulai terhapus, untuk iltizam dengan Islam dan menjaga dari tasyabbuh, mengikuti gaya kaum kafir.

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Demikian khutbah ini khatib sampaikan. Hidupkan senantiasa semangat untuk berhijrah menuju yang lebih baik, sebagaimana semangat yang ada di dalam penetapan Hijriyah. Hidupkan senantiasa kerinduan untuk beribadah khususnya ibadah shaum wajib dan sunnah dan ibadah haji, sebagaimana panduan untuknya hanya dapat kita temukan dalam penanggalan Hijriyah. Marilah menjadi generasi penyebar ajaran tauhid, keyakinan bahwa Allah adalah Satu, Allah tidak memiliki anak, Allah Maha Besar dari apa yang dipersangkakan makhluknya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالْحِكْمَةِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah ke-2

الحمد لله الواحد القهار ، العزيز الغفار ، مقدر الأقدار ، مصرف الأمور ، مكور الليل على النهار ، تبصرة لذولي القلوب والأبصار ، الذي أيقظ من خلقه ومن اصطفاه

وأشهد أن لا إله إلا الله العظيم ، الواحد الصمد العزيز الحكيم ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، وصفيه وحبيبه وخليله ، أفضل المخلوقين ، وأكرم السابقين واللاحقين ، صلوات الله وسلامه عليه وعلى سائر النبيين ، وآل كل وسائر الصالحين

 

إن الله وملآئكته يصلون على النبي ، يآ أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu SAW, berikanlah mereka agar mampu menunaikan janji yang telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Ilah yang hak jadikanlah kami termasuk dari mereka.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan.

اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.

اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين

Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta. Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.

اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ إنَّكَ رَبُّنَا عَلَى كلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ يَا رَبَّ العالمين

Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.

 

رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ للهِ

 

عبادالله : إنَّ الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلَّكم تذكرون

 * Dari berbagai sumber

Dikutip dari, http://bit.ly/1fOeZUv

Dec 22, 2013

Hidup Di Dunia Tak Akan Lepas Dari Ujian

Barang siapa yang masih ingin hidup di dunia maka berarti dia masih ingin diuji, karena kehidupan tak lepas dari ujian...

Barang siapa yg ingin hidup selalu tentram dan senang tanpa ada ujian sama sekali, maka sungguh ia telah mengharapkan kemustahilan..., bahkan pada hakekatnya dia sedang mengharapkan kematian...

Ternyata setelah kematian pun di alam kubur dan di padang masyhar masih ada ujian berat yang menanti...

Tidak ada peristirahatan yang hakiki kecuali di surga...

Sungguh kita semua adalah musafir...dan kita tdk akan berhenti dari safar kita hingga kita sampai pada tujuan terakhir...surga atau neraka...

Dikutip dari, www.firanda.com

Antara Toleransi Dan Kebersamaan

Sobat, saya yakin anda pernah jalan jalan bersama istri atau suami anda, atau barang kali kedua orang tua atau mungkin pula teman.

Tentu acara berjalan bersama akan terasa nyaman dan mengasyikkan bila ada sikap saling memahami dan toleransi.

Sebagai contoh: di saat teman anda merasa mulas / sakit perut maka anda dituntut pengertian,  yaitu dengan mengizinkannya pergi ke toilet. Anda membiarkannya menyelesaikan urusannya, tanpa anda mengganggunya.

Kebersamaan atau toleransi bukan berarti anda turut serta masuk ke toilet, ikut ikutan jongkok di toilet karena anda ingin menunjukkan sikap solidaritas atau empati dengannya.

Sobat, kira kira apa yang anda lakukan bila ada teman anda yang ingin toleransi atau empati kepada anda dengan cara turut serta masuk ke toilet bersama anda dan ikut ikutan jongkok bersama anda?

Gambaran ini adalah ilustrasi sederhana tentang toleransi beragama yang seharusnya dilakukan oleh ummat Islam kepada tetangga atau teman yang berbeda agama.

Bila anda memiliki tetangga atau teman nasrani, maka biarkan ia merayakan hari besar mereka tanpa perlu anda mengusiknya. Namun tinggalkan segala kegiatan agamanya, karena menurut syariat islam, segala praktek ibadah mereka adalah menyimpang dari ajaran Islam alias bentuk kekufuran.

Satu kesalahan besar bila anda turut serta merayakan atau meramaikan perayaan mereka. Sebagaimana salah besar bila anda turut serta masuk ke toilet bersama teman anda.

Demikianlah salah satu pelajaran yang mungkin dapat kita petik dari ayat 8-9 surat Al Mumtahanah.

[Muhammad Arifin Badri]

Dikutip dari, bbm assunnah.